Ingatkah kamu kalau investasi otak dihargai lebih murah dari bagi-bagi kursi politik?
Aku baru saja melihat tangkapan layar skema gaji pokok dosen PNS baru: dua koma sembilan juta rupiah untuk lulusan S2. Bayangkan, investasi kognitif bertahun-tahun, tumpukan jurnal internasional, dan tanggung jawab mencerdaskan generasi baru dihargai setara dengan biaya langganan software korporat bulanan yang bahkan jarang dipakai.
Kemarin, aku membaca berita tentang seorang 'komisaris politik' yang mendapat kompensasi ratusan juta rupiah per bulan hanya untuk duduk manis di rapat formal. Kontras ini membuatku menyadari satu hal fatal: kita sedang hidup dalam ekosistem yang mengalami disfungsi insentif akut.
Secara mekanis, value creation dari seorang dosen bersifat jangka panjang dengan compounding effect yang masif namun tidak langsung terlihat di neraca keuangan kuartalan. Sebaliknya, sistem politik kita bekerja dengan logika immediate transaction—kursi jabatan diberikan sebagai bentuk payback atas loyalitas atau investasi modal selama masa kampanye. Kita secara sadar menormalisasi misallocation of resources, di mana retorika kosong dan kedekatan kekuasaan memiliki leverage finansial yang jauh lebih tinggi daripada produksi pengetahuan.
Kita sedang menabung kebodohan massal ketika membiarkan para pemikir terbaik bangsa dipaksa bertahan hidup dengan mode survival sementara para perantara kekuasaan berenang dalam kemewahan tanpa batas.