Ingatkah kamu kalau kita sedang membiayai kasta elit baru di pendidikan kita?

Kita mengutuk UKT yang melonjak tinggi di PTN seolah-olah itu adalah hukum alam. Kita dipaksa percaya bahwa negara ini miskin, tidak punya cukup uang untuk mendidik anak-anaknya sendiri secara gratis.

Saya teringat momen ketika melihat grafik alokasi APBN untuk sektor pendidikan tingkat tinggi beberapa waktu lalu. Angka-angka itu tidak berbohong, mereka justru menelanjangi ke mana arah political will penguasa sebenarnya pergi.

Dari total puluhan triliun anggaran bantuan kuliah, porsi terbesar justru tersedot habis untuk menyubsidi penuh segelintir sekolah kedinasan elit seperti IPDN, STAN, atau STIS. Bayangkan kontrasnya: mahasiswa di kampus kedinasan kuliah tanpa biaya dan langsung dijamin kerja, sementara kampus besar sekelas ITB megap-megap karena dana APBN hanya sanggup menutupi sekitar 18% dari total biaya operasional mereka.

Masyarakat umum mengira ini soal prestasi, padahal ini adalah masalah disproporsi mekanis dalam budget routing. Distribusi anggaran kita mengalami bottleneck karena prioritas dialihkan untuk memperkuat aparatur birokrasi, bukan membangun talent pool sains dan teknologi yang lebih luas di universitas umum. Ketika hukum pasar dipaksakan masuk ke PTN lewat komersialisasi, kita secara sadar sedang membiarkan seleksi alam finansial menghabisi mimpi anak-anak cerdas dari kelas pekerja.

Sistem pendidikan kita tidak sedang kekurangan dana; kita hanya sedang dipaksa membayar pajak demi membiayai masa depan anak emas negara, sementara sisa remah-remahnya dilemparkan ke wajah kita.