Jangan Percaya Senyum Pejabat

Rabu pagi, 24 Agustus 2022, Semarang tampak seperti biasa bagi Iwan Boedi Prasetyo, seorang PNS Bapenda. Dia mengendarai Vario merah plat dinasnya menembus jalanan kota, menuju sebuah hotel untuk menjadi narasumber.

Dia tidak pernah sampai ke tempat acara, dan malam itu ponselnya mati total.

Sehari setelahnya, Iwan dijadwalkan menjadi saksi kunci kasus dugaan korupsi hibah tanah senilai Rp3 miliar. Anggaran yang baru terpakai secara sah hanya sekitar 10 persen, sementara 90 persen sisanya menguap di dalam jaringan birokrasi pejabat setempat.

Dua minggu kemudian di Pantai Marina, jasad Iwan ditemukan hangus 100 persen tanpa kepala, tanpa telapak tangan, dan tanpa salah satu kaki.

Banyak orang naif mengira pejabat korup hanyalah sekadar tikus kantor yang gemar mencuri angka secara abstrak di balik meja. Kita sering lupa bahwa mereka adalah administrator sistem dengan akses kekuasaan absolut yang mampu menggerakkan eksekutor terstruktur di lapangan.

Secara mekanis, birokrasi yang korup bekerja seperti jaringan kriminal yang sangat protektif terhadap trace log kejahatan mereka. Ketika posisi mereka terancam oleh kesaksian seseorang, mereka akan mengubah fungsi proteksi internal menjadi operasi eliminasi fisik yang total.

Metode mutilasi dan pembakaran jasad Iwan secara teknis dilakukan untuk menghancurkan seluruh barang bukti fisik dan mempersulit proses data recovery forensik oleh kepolisian. Berhati-hatilah dengan jabat tangan erat dan senyum ramah mereka di depan kamera, karena di balik itu ada kalkulasi dingin yang siap melenyapkan siapa saja demi mengamankan kursi kekuasaan.

Hingga hari ini, bertahun-tahun setelah malam jahanam itu, kepala Iwan belum ditemukan dan kasus korupsi sang pejabat menguap begitu saja tanpa kejelasan hukum.

Jangan pernah menaruh percaya pada senyum pejabat yang dibayar pajak, karena saat kedok mereka terancam runtuh, Anda hanyalah variabel tak berarti yang siap mereka delete kapan saja.